Tentunya kita sudah paham makna pahlawan. Kita juga tahu dan mengenal beberapa pahlawan negara kita. Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana mereka bisa menjadi pahlawan.
Apabila mereka meninggal karena sakit, ketahuanlah riwayat mereka.
Apabila mereka meninggal dalam peperangan?
Ada dua hal yang mungkin terjadi.
Pertama: Bisa jadi ia terbunuh oleh peluru musuh dengan sangat brutal sekali. Yang ini kita pantas acungi jempol, karena musuh sangat benci dia.
Kedua: Bisa jadi ia terbunuh oleh peluru teman sendiri dalam kekacauan perang. Yang ini kemungkinan besar karena sifat dan gayanya yang membuat banyak orang benci. Nah, yang kedua ini belum banyak diungkap bukan?
Pada hari pahlawan ini, ayo kita merenungkan, apakah mereka yang kita sebut pahlawan selama ini memang mati untuk negara, atau mati karena dendam pribadi? Salah satu indikasi dapat kita lihat dari cara hidup keluarga atau anak-anak yang ia tinggalkan. Apabila anak-anaknya hidup dengan gaya bicara dan gaya hidup yang menyebalkan, dapat dipastikan memang tidak ada warisan jiwa kepahlawanan dalam diri mereka; alias sang pahlawan dalam kehidupan sehari-harinya bukanlah contoh yang baik.
Pernah berpikir demikian?
Aku sering melihat keluarga pahlawan yang seperti itu.
Indikasi bagi kita untuk meninjau ulang gelar yang kita berikan. Alangkah lebih baiknya apabila para pahlawan yang tidak dikenal itulah yang kita coba cari tahu asal-usulnya. Sementara yang sudah kita anugerahi gelar pahlawan, selayaknyalah diakreditasi ulang. Seperti sekolah saja! Biar saja!
salam,
H
Apabila mereka meninggal karena sakit, ketahuanlah riwayat mereka.
Apabila mereka meninggal dalam peperangan?
Ada dua hal yang mungkin terjadi.
Pertama: Bisa jadi ia terbunuh oleh peluru musuh dengan sangat brutal sekali. Yang ini kita pantas acungi jempol, karena musuh sangat benci dia.
Kedua: Bisa jadi ia terbunuh oleh peluru teman sendiri dalam kekacauan perang. Yang ini kemungkinan besar karena sifat dan gayanya yang membuat banyak orang benci. Nah, yang kedua ini belum banyak diungkap bukan?
Pada hari pahlawan ini, ayo kita merenungkan, apakah mereka yang kita sebut pahlawan selama ini memang mati untuk negara, atau mati karena dendam pribadi? Salah satu indikasi dapat kita lihat dari cara hidup keluarga atau anak-anak yang ia tinggalkan. Apabila anak-anaknya hidup dengan gaya bicara dan gaya hidup yang menyebalkan, dapat dipastikan memang tidak ada warisan jiwa kepahlawanan dalam diri mereka; alias sang pahlawan dalam kehidupan sehari-harinya bukanlah contoh yang baik.
Pernah berpikir demikian?
Aku sering melihat keluarga pahlawan yang seperti itu.
Indikasi bagi kita untuk meninjau ulang gelar yang kita berikan. Alangkah lebih baiknya apabila para pahlawan yang tidak dikenal itulah yang kita coba cari tahu asal-usulnya. Sementara yang sudah kita anugerahi gelar pahlawan, selayaknyalah diakreditasi ulang. Seperti sekolah saja! Biar saja!
salam,
H
No comments:
Post a Comment